Site Loader
Pabuaran, Bogor, Jawa Barat 16310

Semua kabar gembira ini datang via medsos, justru pada saat saya sdg total puasa medsos. Setidaknya saya khatam tdk buka fb di hp saya sepanjang Ramadhan yg lalu. Meski bbrp kali melirik fb via akun milik suami. Itu pun krn beliau menunjukan berita yg berkaitan dg santri alhikmah. Dan semua yg ditunjukan serasa menyenangkan.

Pertama saya diperlihatkannya siaran langsung sholat tarawih di Sydney. “umi kenal ga sama imamnya?” tanya suami sembari menunjuk remaja berkacamata. “ya tentu, itu kan abdurrahman yustiko. Putra bu Retno handayani” betapa bangganya melihat santri yg saat di alhikmah begitu pendiam ini mengimami para orangtua di negeri kangguru. Waktu berjalan terasa cepat, abdurrahman sudah memberi manfaat meski saat ini usianya baru 14 thn.

Di Pertengahan romadhon saya membaca tulisan yg beredar di berbagai grup wa tentang remaja 13 thn yg suaranya Indah memukau saat diminta jadi imam tarawih di bekasi. Selain mengimami tarawih, remaja yg bernama Muhammad Qori ini pun mempesona saat di daulat menjadi penceramah tarawih. Ia memang fasih di atas mimbar. Dan sudah menguasai panggung sejak nyantri di alhikmah. Penampilan qori terekam dlm tulisan panjang ustadzah Dina Rahmawati.

Di awal 10 hari terakhir romadhan suami saya dan Mudir alhikmah bogor di undang ke kediaman Mayjen (purn) TNI bpk. Ampi Tanudjiwa. Beliau mengungkapkan rasa bangga sekaligus haru atas cucunya yg di percaya untuk jadi salah satu imam di Melbourne. Beliau tdk menyangka jika Zahidi yg masih berusia 13 thn ini begitu berani dan tenang saat harus mengimami tarawih di Australia sana.

Yang tak kalah mengejutkan adalah saat saya lihat berita di TV tentang seorang anak berumur 13 tahun yg akan menjadi imam sholat Ied di kalimantan. Yg menjadi makmumnya adalah para petinggi Muhammadiyah setempat juga bu bapak bupatinya. Namanya gilang. Santri alhikmah ini masih sangat belia. Namun jadi imam Ramadhan di masjid besar. Konon penunjukannya ini atas hasil musyawarah pengurus wilayah Muhammadiyah disana.

Saya bersyukur bahwa ternyata kelengkapan fasilitas pesantren tdk identik dengan kualitas santrinya. Buktinya, anak2 ini di cetak dari pondok yg dinding asramanya masih bercampur bilik bambu. Dan mereka lahir dari pesantren yg belum memiliki masjid.

by : ummi astri hamidah

Post Author: adminwp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *